♣ Aturan Pemberian THR 2026 untuk Karyawan Swasta ♣
Pemerintah telah mengeluarkan surat edaran yang memuat aturan pemberian THR 2026 bagi karyawan swasta. Berikut ulasannya.
Tunjangan Hari Raya Keagamaan atau THR adalah pendapatan nonupah yang wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada karyawan atau keluarganya menjelang hari raya keagamaan. Dasar hukum THR diatur dalam Permenaker 6/2016.
Sehubungan dengan petunjuk teknis pemberian THR, setiap tahunnya, Menteri Ketenagakerjaan akan mengeluarkan surat edaran. Surat edaran ini umumnya berisi jawaban siapa saja yang menerima THR, kapan THR akan cair, berapa besaran THR yang diberikan, serta apakah THR boleh dicicil atau tidak. Berikut rangkumannya.
Aturan Pemberian THR 2026 untuk Karyawan Kontrak dan Tetap
Aturan pemberian THR 2026 untuk karyawan swasta, baik karyawan kontrak dan tetap tertuang dalam SE Menaker No. M/3/HK.04.00/III/2026 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2026 bagi Pekerja/buruh di Perusahaan. Berikut sejumlah informasi THR yang disarikan dari surat edaran tersebut.
Karyawan yang berhak menerima THR adalah:
1. Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja satu bulan secara terus menerus/lebih;
2. Pekerja/buruh yang mempunyai hubungan kerja dengan pengusaha berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu atau 3. Perjanjian kerja waktu tertentu.
Kapan THR harus dibayarkan?
THR Keagamaan wajib dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan. Ini artinya THR harus dibayarkan paling lambat pada 14 Maret 2026, jika Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026.
Berapa jumlah THR yang dibayarkan?
1. Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan sebesar satu bulan upah;
2. Pekerja yang mempunyai masa kerja satu bulan secara terus menerus atau lebih tetapi kurang dari 12 bulan, diberikan secara proporsional sesuai dengan perhitungan: masa kerja:12 x satu bulan upah.
4. Pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian lepas, upah satu bulan dihitung sebagai berikut.
5. pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan atau lebih, upah satu bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan; dan
6. pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 bulan, upah satu bulan dihitung berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja.
7. Pekerja/buruh yang upahnya ditetapkan berdasarkan satuan hasil, maka upah satu bulan dihitung berdasarkan upah rata-rata 12 bulan terakhir sebelum hari raya keagamaan.
8. Pekerja yang berkerja di perusahaan yang menetapkan besaran nilai THR Keagamaan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau kebiasaan, lebih besar dari nilai THR Keagamaan, maka THR Keagamaan yang dibayarkan kepada pekerja/buruh sesuai dengan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau kebiasaan tersebut.